Ketika Risma Diganggu Hantu Balikota Surabaya

Walikota Surabaya Tri Rismaharini

Jakartaweekly.com – Gedung-gedung tua termasuk gedung peninggalan Belanda pasti tak lepas dari kisah-kisah horor di dalamnya. Walaupun gedung tersebut telah lama ditinggali, ternyata masih ada saja cerita horor yang abadi.

Salah satunya yakni di gedung Balai Kota Surabaya. gedung yang resmi berdiri pada 1 April 1906 ini menyimpan kisah horor. Hal tersebut diungkapkan sendiri oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Risma mengatakan bahwa sosok makhluk yang ada di kantornya itu adalah sosok noni-noni Belanda. “Penampakannya itu berupa hantu noni-noni Belanda,” ujar Risma.

Di awal masa jabatannya, Wali Kota Surabaya dua periode ini kerap kali “menggodanya”. Risma sering mendengar suara-suara aneh di malam hari. Beberapa suara yang sering didengar Risma yaitu suara ketukan pintu, dering ponsel Risma tanpa ada pesan atau panggilan masuk, dan suara orang menyanyi dalam Bahasa Belanda.

BACA JUGA :  The Apurva Kempinski Bali Menyambut Happy Salma Sebagai Art Advisor

Merasa ada hal yang ganjil, Risma merasa ketakutan juga. Ia kemudian tak berani lagi pulang selepas Maghrib. “Makanya, waktu itu saya tidak pernah pulang setelah Maghrib, pasti sebelumnya,” ujar Risma.

Meski demikian, hal tersebut tak berlangsung lama. Sebab putri Risma mengatakan agar ibunya tidak boleh takut dengan hantu. Berbekal dorongan putrinya tersebut, Risma kemudian meminta agar makhluk harus tidak mengganggunya.

Risma juga mengatakan bahwa kehadirannya di Balai kota adalah karena adanya perintah memimpin Surabaya. Saat itu, ia mengatakan bahwa dirinya memiliki Surat Keputusan. “Dia bilang, Mama jangan takut sama hantu. Akhirnya saya mikir kenapa harus takut. Lalu saya bilang, kamu jangan ganggu aku, aku di sini punya SK (Surat Keputusan),” pungkasnya.

BACA JUGA :  Bahaya Melepas Balon Ke Udara

Ternyata, kalimat itu cukup ampuh bagi Risma untuk lolos dari gangguan noni-noni Belanda. Meski demikian, makhluk-makhluk halus ternyata masih ada di gedung yang beralamat di Jalan Walikota Mustajab ini. “Tapi kata ajudan saya, dia pindah ke sebelah ruangannya. Cara nakut-nakutinya juga sama, pakai ketok-ketok tembok, atau nyanyi-nyanyi bahasa Belanda,” jelas Risma. 


Sumber : malangtoday.net