Mengenal Greg Lansky, Raja Baru di Industri Film Porno

Jakartaweekly.com – Di tangan Greg Lansky, film porno tak hanya sekadar menyajikan dua orang (atau lebih) beradu kelamin dengan segala macam teknik bercinta yang bikin mumet kepala. Film porno juga bisa dibalut dengan estetika ala Hollywood, narasi yang memikat, serta kualitas gambar beresolusi tinggi.

Pria keturunan Perancis dengan wajah yang dipenuhi brewok itu adalah pemilik Strike 3 Holdings, rumah produksi hiburan orang dewasa yang membawahi empat situs film porno: Blacked, Blacked Raw, Vixen, dan Tushy. Semuanya adalah layanan hiburan berbayar, sebagaimana HBO atau Netflix. Atau dalam konteks yang sama, seperti Pornhub Premium atau Brazzers. Jika Anda tertarik berlangganan, siapkan uang 29,99 dolar per bulan untuk berlangganan ketiga situs tersebut.

Baik Blacked, Blacked Raw, Vixen, dan Tushy memiliki kategori berbeda. Blacked khusus gagrak interasial, namun dibatasi hanya antara laki-laki kulit hitam dan perempuan kulit putih. Situsweb tersebut adalah favoritnya Kanye West. Bahkan, ketika di acara bincang-bincang Jimmy Kimmel, Kanye mengatakan: “Putriku saja tidak bisa menghentikanku untuk berhenti menonton situs itu”. Sedangkan Blacked Raw versi yang lebih hardcore-nya.

Sementara Vixen pada dasarnya adalah khusus genre “hardcore pornography”, namun dikemas dengan cerita yang juga menarik dan akting yang natural, sebagaimana film remaja Hollywood. Inilah situs andalan Strike 3 Holdings. Adapun Tushy, seturut istilah di Daily Dot, adalah situsweb penyedia konten “premium anal porn”, namun tidak seekstrim genre “anal porn” kebanyakan.

Semua film di Blacked, Vixen, dan Tushy dibuat dengan gambar beresolusi tinggi. Hal tersebut memang menjadi andalan Lansky ketika ia memutuskan terjun ke industri film porno. Selain itu, kualitas akting para pemainnya juga dituntut apik karena Lansky menginginkan film porno dengan standar premium. Bintang-bintang porno yang digaetnya pun juga terhitung yang kelas satu seperti Tori Black, Kendra Sunderland, atau Nicole Aniston.

“Platform yang berkualitas bagi para penampil dewasa mengekspresikan diri mereka,” ujar Lansky kepada Daily Beast saat menjelaskan filosofi dari ketiga situsweb tersebut.

Hasilnya luar biasa. Dari data yang dilansir Ad Age pada 17 Agustus 2018, ketiga situsweb tersebut menghasilkan 30 juta uniques visitors (UV) tiap bulannya. Hal ini membuat Chauntelle Tibbals, seorang sosiolog di University of Southern California, yang mempelajari tentang industri hiburan dewasa, memprediksi bahwa Lansky mungkin adalah harapan terakhir pornografi.

BACA JUGA :  Tentara Irak Diserang Saat Kirim Makanan

“Sementara beberapa perusahaan produksi (film porno) banyak yang diakuisisi, Lansky tampak independen. Sementara beberapa perusahaan langsung tutup, Lansky terus berkembang. Sementara beberapa perusahaan semakin sibuk dengan direksi dan kru agar dapat menurunkan tarif produksi, film-film berkualitas dari Lansky terus dibahas secara luas di antara masyarakat,” ujarnya.

Tibbals tidak sedang membual.

Dari Kenekatan, Menjadi Kerajaan, Melawan Pembajakan

Sejak masih tumbuh remaja di Perancis, Lansky sudah mengaku tertarik dengan pornografi. Terutama bagaimana hal itu dimaknai oleh masyarakat. “Saya suka paradoksnya. Orang-orang sangat terobsesi dengan hal itu secara pribadi dan di depan umum tidak ada yang mau membicarakannya,” ujarnya kepada Forbes.

Pada tahun 2005, Lansky merealisasikan ketertarikannya tersebut dengan membuat film porno pertamanya. Menggunakan dana pribadi dan diproduksi sendiri, film tersebut berakhir dengan sangat buruk. Tapi Lansky tak peduli. Di sebuah festival hiburan orang dewasa di Berlin, ia mencoba menjual keping film tersebut. Satu jam usai berkeliling dari stan per stan, film tersebut laku terjual.

Berawal dari sana, Lansky mulai memiliki jejaring dengan orang-orang dari berbagai rumah produksi film porno di AS. Pada tahun 2005, pemilik rumah produksi New Sensations yang berlokasi di Los Angeles bernama Scott Taylor mengajaknya untuk bekerja sama membuat film baru. Lansky setuju dan ia pun bekerja di sana sementara waktu. Bekalnya ketika itu hanya satu: keterampilannya membual.

“Saya bersikap seolah-olah sudah berpengalaman. Saya tahu bagaimana harus menunjukkan diri saya saat itu, tapi, jujur saja, saya tidak punya keterampilan yang benar-benar memadai. Secara perlahan saya belajar. Saya hanya mengeluarkan omong kosong saat itu, saya tidak akan menutup-nutupinya. Tapi saya betul-betul berusaha untuk membuat film porno terbaik,” ujar Lansky saat diwawancarai Men’s Health.

BACA JUGA :  Bos CIA Terjun Langsung ke Turki Terkait Pembunuhan Khashoggi

Usai bekerja dengan Taylor, Lansky kemudian mendapat kesempatan emas untuk berkarier di Reality Kings, korporasi hiburan dewasa ternama di AS dan termasuk pelopor di era digital. Tempat yang disebut Lansky ketika diwawancarai Rolling Stone sebagai “Harvard business school of the adult industry”. “

Bekerja di sana adalah pengalaman belajar yang luar biasa. Mereka benar-benar pelopor dalam penyajian konten dewasa via online. Anda dapat melihat secara instan berapa banyak orang yang mengklik, berapa banyak orang yang tidak mengklik, berapa banyak orang yang singgah sebentar. Anda bisa merasakan bagaimana pasar bekerja,” kenang Lansky.

Pada 2012, ketika pembajakan mulai tumbuh subur di dunia maya, banyak rumah produksi film porno kalang kabut. Termasuk Reality Kings yang kemudian dibeli oleh Fabian Thylmann, pengusaha sukses asal Jerman pemilik korporasi hiburan orang dewasa bernama MindGeek. Pada saat itu, mereka yang selamat hanya berbekal modal sederhana: membuat film porno berbiaya rendah.

Di tengah kelimpungannya, terbersit ide gila di kepala Lansky. Alih-alih mengikuti arus dengan metode bisnis serupa, ia justru melawan pakem kala itu dengan membuat film porno berbiaya tinggi, berkualitas premium, membayar mahal bintang-bintang porno kelas satu, lalu menayangkannya di situsweb berbayar. Oleh orang-orang terdekatnya, sikapnya tersebut dianggap keputusan bodoh. Tapi justru karena keberaniannya tersebut Lansky berhasil membangun kerajaan bisnisnya.

“Saya ingin menciptakan sesuatu yang lebih. Pada saat itu, semua orang mengatakan kepada saya, ‘Itu adalah ide yang kebangetan goblok. Pornografi sudah berakhir’. Dengan maraknya pembajakan dan situsweb culas, Anda harus membuat produk yang murah. Saya membuat produk yang sangat mahal menurut standar orang dewasa dan itu akan menarik bagi sebagian orang,” ujar Lansky.

Hal pertama yang dilakukan Lansky adalah memetakan pangsa pasar untuk film-filmnya nanti. Ia membidik sebagian kecil konsumen yang memang betul-betul menikmati film porno sebagai pemuas selera artistik mereka. Ia mengatakan: “Jika saya bisa menarik sebagian kecil dari orang-orang ini, mereka yang benar-benar menikmati hiburan berkualitas, saya bisa mendapatkan pasar itu.”

BACA JUGA :  China disebut pindahkan tahanan etnis muslim Uighur untuk tutupi bukti

Cara lainnya adalah: bagaimana menjadikan media sosial sebagai media pemasaran yang efektif. Hal ini, lagi-lagi, sebuah keputusan yang amat berani dari Lansky. Seperti jamak diketahui, media sosial sangat ketat dalam memfilter konten pornografi. Tapi Lansky dengan cerdik mengakali batasan-batasan yang ada. Dalam hal ini, ia menganggap Instagram sebagai media yang tepat untuk strategi bisnisnya.

INFOGRAFIK GREG LANSKY

Keputusan Lansky kembali benar. Jika Anda melihat akun Instagram Blacked, Blacked Raw, Vixen, ataupun Tushy, amat jarang ditemui promosi film terbaru. Yang justru lebih banyak dimunculkan adalah foto-foto seksi para bintang porno dengan balutan pakaian mahal, mobil-mobil mewah, dan lokasi pemotretan yang menawan. Tujuannya adalah menampilkan kesan ekslusivitas: sesuatu yang juga bisa Anda dapatkan dari film-film ketiga situsweb tersebut.

Kini Lansky telah menjadi raja baru dalam industri film porno global. Berderet piala AVN–semacam Oscar untuk film porno–telah berhasil diraihnya. Ia memiliki 75 karyawan yang tersebar di beberapa negara lain. Produser, desainer, akuntan, dan pengacara berbasis di Los Angeles; programmer web dan beberapa teknisi web ada di Barcelona, Spanyol; bagian pemasaran berlokasi di Montreal, Kanada.

Namun begitu, kerajaan Lansky bukannya tak ada masalah. Kasus pembajakan terus menggerogoti film-filmnya dengan jumlah yang luar biasa. Untuk mengatasi hal tersebut, Lansky menggandeng XTakedowns.com, sebuah lembaga penegakan hak cipta khusus konten dewasa. Menurut perkiraan David Robertson, salah satu pendiri XTakedowns.com, dari berbagai kasus pembajakan film porno di seluruh dunia yang telah mereka pindai, enam persen di antaranya menimpa Strike 3 Holdings.

Perburuan para pembajak itu pun mulai dilakukan dengan masif sejak September 2018 lalu di BitTorrent: sebuah tempat berbagi musik, video, dan jenis file lainnya secara anonim yang sudah ada sejak 2001. Keberadaan BitTorrent hingga saat ini masih menjadi pusat perdebatan hak cipta di internet.

Perlawanan Lansky mempertahankan kerajaan bisnisnya masih terus berlangsung. Untuk saat ini, laki-laki yang dijuluki “Steven Spielberg of Porn” itu masih dapat menikmati gelimang hartanya.

Source : Tirto.id